Wednesday, June 6, 2012

Screen Printing VS DTG (Direct to Garment)



Inovasi teknologi memang menjadi sebuah kebutuhan bagi manusia modern yang menginginkan semua hal menjadi serba instan dan praktis. Rasanya tidak salah apabila setiap detik selalu bermunculan kreasi teknologi baru yang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia di era globalisasi ini yang selalu menuntut kepraktisan dalam melakukan berbagai hal. Kali ini kita akan berbicara mengenai teknologi di bidang konveksi yang dikenal dengan DTG(direct to garment) yang 4 tahun belakangan sedang marak dibicarakan oleh para pebisnis yang berwirausaha di sector konveksi/garmen.


DTG adalah  Sebuah alat yang dari bentuknya  hampir mirip dengan printer biasa yang sering kita gunakan sehari-hari, namun memiliki fungsi yang berbeda. Printer DTG ini menggunakan konsep yang sama layaknya printer kertas biasa yang dialihfungsikan untuk mencetak gambar/ tulisan dengan media kaos sebagai objeknya. Sebagaimana kita ketahui, screen printing atau sablon manual sudah terlebih dahulu dikenal di negeri ini untuk mencetak gambar pada media kaos. Kemunculan printer DTG ini bisa menjadi kabar baik ataupun buruk pagi para pelaku bisnis kaos di negeri ini. Bagi pelaku bisnis yang bermodal besar mungkin tergiur untuk menggunakan alat ini. Selain lebih praktis, paduan warna yang digunakan pun bisa dikatakan jauh melebihi proses sablon manual. Pada proses sablon manual, misalnya sebuah desain kaos yang memiliki sepuluh warna akan dipisahkan menurut warnanya masing-masing dan dicetak ke dalam screen yang berbeda (color separation process).tentu saja pengrajin sablon manual pun diharuskan untuk melakukan pencampuran warna secara manual menurut warna yang akan dihasilkan bergantung kepada jumlah warna yang dibutuhkan. Hal ini tentunya berpengaruh kepada budget produksi. Printer DTG menjadi solusi dalam mengatasi masalah ini, karena layaknya printer yang sudak kita kenal pada umumnya, proses pencetakan dilakukan secara otomatis pada kaos dengan hamper tidak adanya batasan warna layaknya kita mencetak gambar berwarna pada printer biasa. Efisiensi waktu pengerjaan pun menjadi sebuah nilai plus dan menjadi alasan utama para pelaku bisnis kaos menggunakan alat ini. Hal ini bukan tidak mungkin lambat laun menjadi sebuah ancaman pagi para pengrajin sablon manual. Tapi kemunculan printer DTG ini bukanlah tanpa cacat. Banyak keluhan dari pengguna yang merasa kerepotan dalam masalah maintenance yang lumayan merogoh kocek. Kendala seperti head printer yang macet atau tinta yang mampet menjadi sebuah nilai negatif yang patut menjadi penyemangat bagi para pelaku sablon manual yang masih ingin survive dalam industri busana, khususnya sablon kaos. Selain itu banyak pelaku bisnis professional di bidang ini yang menilai hasil akhir(finishing) dari sablon DTG ini entah kenapa kurang terasa sentuhan estetika nya.dan cenderung terlihat kaku/kasar. Saya pribadi mungkin mengibaratkan keduanya seperti sebuah pertarungan antara pelukis konvensional dan desainer grafis di masa sekarang ini. Jadi, apakah anda akan bertahan pada gaya konvensional atau beralih pada sesuatu yang baru? Mudah-mudahan pada posting berikutnya dapat dibahas lebih mendetail mengenai perbedaan kedua proses sablon ini. Kritik dan saran ataupun sekedar sharing kami harapkan dari anda. Karena berbagi ilmu adalah sebuah hal yang indah dan bermanfaat.       

No comments:

Post a Comment